Sejarah

Gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh telah menelan korban jiwa yang cukup banyak, harta yang tak ternilai harganya, puluhan ribu keluarga kehilangan anggota keluarganya, ibu, ayah atau anaknya, dan ratusan ribu keluarga kehilangan rumah. Keadaan ini menimbulkan berbagai persoalan termasuk permasalahan kesehatan. Salah satu permasalahan kesehatan yang muncul adalah kesehatan mental dan kejiwaan, WHO memperkirakan 50 % korban yang selamat mengalami gangguan psikologi dan 5-10 % korban menderita kelainan psikiatrik yang membutuhkan terapi dan program intervensi lainnya. Survey yang dilakukan di 11 kabupaten/kota mendapatkan angka penderita gangguan kesehatan mental yang cukup tinggi yaitu, 4117 kasus.

Disamping bencana alam, konflik bersenjatayang berlangsung hampir selama tiga dekade telah menelan banyak korban jiwa dan harta. Konflik ini juga berdampak pada kesehatan mental masyarakat. WHO menyebutkan 40 % dari keseluruhan gangguan mental di Propinsi Aceh, disebabkan oleh konflik.

Gangguan kesehatan mental dan kejiwaan yang timbul menuntut upaya penanganan yang intensif,holistik dan komperehensif, dan berkesinambungan yang menuntut pula jumlah dan kualitas tenaga pemberi pelayanan kesehatan mental psikologi yang memadai. Laporan WHO menyebutkan tenaga kesehatan mental psikologi yang terdapat di Propinsi Aceh masih jauh dari standar nasional.

Hingga saat ini terdapat berbagai organisasi baik pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat yang memberikan pelayanan kesehatan mental psikologis, termasuk memberi pendidikan atau kursus bagi perawat dan dokter umum dalam bidang mental psikologis. Program terobosan ini

dilakukan untuk menjawab kekurangan tenaga kesehatan mental psikologis yang ada di lapangan. Namun semua kegiatan yang telah dilakukan bersifat sporadik dan sementara. Dilain pihak WHO menyebutkan penanganan kasus-kasus di Propinsi Aceh menuntut jenis pelayanan yang lebih holistik dan berkesinambungan. Untuk menjamin pelayanan yang menyeluruh dan berkesinambungan sangat dibutuhkan adanya suatu lembaga pendidikan yang mendidik khususnya putra-putri Aceh yang nanti bersedia ditempatkan di daerah di seluruh Propinsi Aceh. Lembaga yang dimaksud salah satunya adalah institusi pendidikan psikologi. Saat ini hanya ada dua Program Studi Psikologi swasta di Propinsi Aceh, kehadiran dua Program Studi yang swasta baru berdiri beberapa tahun yang lalu, dengan segala keterbatasannya sulit diharapkan lembaga ini dapat memberikan dan menjamin jumlah lulusan yang cukup untuk mengatasi permasalahan psikologis di Aceh. Oleh karena itu kehadiran lembaga institusi psikologi di Universitas Syiah Kuala dipandang merupakan salah satu solusi yang tepat untuk mengatasi problem kesehatan mental di Propinsi ini seperti yang direkomendasikan dari lokakarya penanganan permasalahan kesehatan jiwa pada bulan April 2006 yang lalu.

Keberadaan institusi pendidikan psikologi di Unsyiah akan menjamin terpenuhinya jumlah lulusan yang dibutuhkan terutama di Propinsi Aceh. Adanya institusi ditengah masyarakat akan berdampak kepada peningkatan penegtahuan masyarakat terhadap problem kesehatan mental yang muncul ditengah masyarakat. Sesuai dengan peraturan pemerintah Republik Indonesia No. 60 tahun 1999 bahwa tujuan pendidikan yang diadakan oleh institusi, meliputi:


1. Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.


2. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.

Berdasarkan visi dan misi pemerintah Indonesia berkewajiban untuk mengembangkan pendidikan secara luas. Universitas Syiah Kuala sebagai salah satu lembaga pendidikan keilmuan yang berorientasi pada pengembangan kualitas sumber daya manusia, berusaha mengembangkan ilmu pengetahuan dan pendidikan dari berbagai sektor termasuk pengembangan program-program pendidikan yang dibutuhkan oleh masyarakat sebagai upaya mewadahi dan mengantisipasi peminat dari kalangan masyarakat yang semakin meningkat terus-menerus terutama bidang keilmuan psikologi seperti yang terungkap dalam sosialisasi dan lokakarya sebelumnya.

Oleh karena itu kehadiran lembaga institusi psikologi di Universitas Syiah Kuala menjadi harapan semua pihak untuk mengatasi problem kesehatan mental di Propinsi ini.

Bagikan halaman ini