Isu-isu Pengaruh Kelompok Teman Sebaya Terhadap Perkembangan Remaja

Oleh: Nurbaiti (Mahasiswi Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala)

Kelompok teman sebaya akan memungkinkan individu untuk saling berinteraksi, bergaul dan memberikan semangat serta motivasi terhadap teman sebaya yang lain secara emosional. Kehadiran kelompok teman sebayadapat memberikan pengaruh terhadap perkembangan remaja.

  • Kelompok teman sebayaMemberikan Pengaruh Positif dan Negatif Terhadap Perkembangan Remaja
  • Pengaruh Kelompok Teman Sebaya Terhadap Citra Tubuh
  • Pengaruh Kelompok Teman Sebaya Terhadap Perilaku Konsumtif
  • Pengaruh Kelompok teman sebaya Terhadap Perkembangan Sosial (Persahabatan dan Relasi Romantis)

Menurut Erikson (dalam Gunarsa, 2004), masa remaja adalah masa pencarian identitas diri, dimana identitas diri ini dibentuk dari hubungan psikososial remaja dengan individu lain yaitu dengan teman dan sahabat. Hubungan psikososial sesama remaja dalam mengidentifikasikan diri dan merasa nyaman disebut dengan istilah kelompok teman sebaya(Larson & Richard dalam Papalia, 2005).

Ikatan secara emosional dalam kelompok teman sebayaakan mendatangkan berbagai pengaruh besar bagi individu dalam kelompok. Dibandingkan dengan remaja yang tidak memiliki hubungan kelompok teman sebaya atau hubungan kelompok teman sebaya yang negatif, remaja yang memiliki hubungan kelompok teman sebaya yang positif lebih dapat mengatasi stres karena dukungan dari teman-temannya.

Karakter seseorang yang dijadikan teman pun akan sangat berpengaruh pada perkembangan remaja. Hubungan kelompok teman sebaya yang positif akan memberi hasil pada prestasi akademik dan keterlibatan dalam kegiatan sekolah. Aspek perkembangan kognitif dilihat dari sudut pandang pendekatan konstruktivis sosial Vygotsky (dalam Santrock, 2011) menekankan pada konteks sosial dari pembelajaran dan bahwa pengetahuan itu dibangun secara bersama. Keterlibatan dengan orang lain membuka kesempatan bagi remaja untuk memperoleh informasi, mengevaluasi, dan memperbaiki pemahaman mereka saat mereka bertemu dengan pemikiran orang lain serta saat mereka berpartisipasi dalam kelompok.

Sedangkan hubungan kelompok teman sebaya yang negatif akan menimbulkan masalah perilaku dan perkembangan moral. Masalah perilaku yang muncul pada remaja seperti terlibat dalam perkelahian, tawuran, penggunaan obat-obatan, seks bebas sampai pada kenakalan remaja (Laursen dalam Gunarsa, 2004).

Citra tubuhadalah gambaran atau konsep pribadi seseorang akan penampilan fisiknya (Winzeler, 2005). Seseorang akan merasa puas jika kesan fisik yang dia tampilkan tidak jauh berbeda dengan kesan yang diberikan oleh lingkungannya. Persepsicitra tubuh yang terbentuk pada remaja merupakan pengaruh lingkungan atau kelompok teman sebaya yang mempersepsikan bentuk tubuh ideal adalah langsing atau kurus, kemudian remaja mengadopsi persepsi kelompok teman sebayatersebut menjadi bagian dari persepsi pribadi agar dapat diterima dan menjadi bagian dalam kelompok.

Davidson and Birch (dalam Papalia, 2008) mengatakan bahwa kepedulian terhadap penampilan dan gambaran tubuh yang ideal dapat mengarah pada upaya obsesif, seperti mengontrol berat badan.

Persepsi citra tubuh yang salah akan berimbas pada pencapaian status gizi remaja. Status gizi dan citra tubuh yang negatif akan berakibat pada masalah kesehatan (gangguan makan) dan gangguan perkembangan pada tahap remaja yang berdampak negatif secara psikologis seperti depresi, harga diri yang rendah (Winzeler, 2005).

Perilaku konsumtif adalah keinginan untuk mengkonsumsi barang-barang yang sebenarnya kurang begitu diperlukan secara berlebihan untuk mencapai kepuasan yang maksimal. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi seseorang berperilaku konsumtif adalah kelompok teman sebaya (Dharmmesta & Handoko, 2000). Perilaku konsumtif yang ditunjukkan remaja bersama teman sebaya tidak jauh dari masalah fashion, mengikuti trend fashion perlu bagi para remaja karena bisa menunjang penampilan, karena dengan berpenampilan menarik remaja merasa percaya diri, selain itu produk fashion dipilih karena model yang banyak dan cepat berubah (Nurhayati, 2008).

Perilaku konsumtif didasari pada keinginan untuk selalu lebih dari pada yang lain, selalu tidak ada kepuasan dan usaha untuk memperoleh pengakuan serta biasanya diikuti dengan rasa bersaing yang tinggi. Remaja yang berperilaku konsumtif mengutamakan faktor emosionalnya saja, seperti gengsi.

Menurut Harry Stack Sullivan (dalam Santrock, 2011), sahabat menjadi sangat penting unutk memenuhi kebutuhan sosial. Kebutuhan akan intimasi meningkat di masa remaja awal, dan memotivasi remaja untuk mencari sahabat. Ketika remaja tidak mampu membina hubungan persahabatan yang akrab, maka mereka akan mengalami kesepian dan merasa turunnya harga diri mereka. Persahabatan menggambarkan perilaku kerjasama dan saling mendukung antara dua atau lebih identitas sosial. Ikatan persahabatan akan ditunjukkan oleh perilaku prososial (saling menolong di antara mereka), saling percaya, dan juga saling setia.

Semakin romantis pengalaman yang mereka miliki akan berdampak pada semakin tingginya penerimaan sosial, kompetensi persahabatan, dan kompetensi romantis yang mereka rasakan. Dampak tersebut tidak hanya dipandang secara positif saja, keromantisan dapat mengakibatkan seseorang melakukan penyalahgunaan obat-obatan terlarang, kenakalan remaja, dan perilaku seksual (Furman, Low & Ho dalam Santrok, 2011).

Referensi

Dharmmesta, S. B., & Handoko, H. T. (2000). Manajemen pemasaran,
analisa perilaku konsumen.
Yogyakarta: BPFE.

Gunarsa, S. D., & Gunarsa, Y. S. D. (2004). Psikologi praktis: Anak, remaja dan keluarga. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.

Nurhayati, E. (2008). Peran peer group dalam membentuk perilaku konsumtif remaja. Skripsi. Yogyakarta: Program Studi Sosiologi Agama Fakultas Usluhuddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Papalia, D., E., & Feldman, R. D. (2005). A child’s world: Infancy through adolescence, International Ed. New York: McGraw-Hill.

Papalia, D., E., & Feldman, R. D. (2008). Human development, Edisi Kesembilan. Jakarta: Kencana.

Santrock, J. W. (2011). Educational psychology, 5th Edition. New York: McGraw-Hill Companies, Inc.

Santrock, J. W. (2011). Perkembangan masa hidup. Jakarta: Erlangga.

Winzeler, A. (2005). A Healthy body image. UNE Departement of Family Studies. Diakses pada tanggal 23 April 2017, dari www.adolescence.unh.edu/healthy body final.pdf.

Bagikan Berita ini

Berita Lainnya